Dantidak ada hujjah yang bisa ditegakkan tentang tidak wajibnya adzan dan iqamah bagi wanita karena di dalam hadits yang berkaitan dengan hal tersebut mempunyai sanad yang di dalamnya ada dua orang perawi matruk (ditinggalkan periwayatannya) tidak benar untuk berhujjah dengan dalil yang dhoif tersebut, maka apabila ada dalil yang shohih untuk Orangtua dalam Islam dituntut untuk bersungguh-sungguh membina, memelihara dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Tujuannya agar anak-anak tersebut selamat dunia akhirat. Dalam melaksanakan kewajiban kepada anaknya, para orang tua pun harus didasarkan pada motivasi yang benar yaitu ikhlas dan memiliki sikap keteladanan. Dikarenakankemampuan dan ilmu beliau yang begitu luas tentang hadits Rasullah n, banyak dikalangan shahabat dan ulama yang memuji bel i au. Handhalah, putra dari Abu Sufyan menyebutkan bahwa kakek-kakeknya mengatakan tentang Abu Said Al Khudry : "dahulu bel i au (Abu Said) termasuk seorang yang paling faqih tentang hadits dari para shahabat. Al khatb juga menyatakan bahwa Abu Said termasuk cash. Penelantaran anak apapun itu alasannya adalah hal yang dilarang baik itu secara agama maupun secara hukum yang berlaku di negara. Dalam QS At-Tahrim6, Allah berfirman “Hai orang-orang yang beriman, perilaharalah dirimu dan kelaurgamu ke dalam api neraka.” Seorang tabi’in, Qatadah menafsirkan bahwa “Engkau perintahkan manusia untuk taat kepada Allah dan melarang mereka durhaka kepada-Nya. Engkau tegaskan mereka untuk mematuhi perintah Allah, membantu mereka untuk menjalankannya. Apabila mereka berbuat hal-hal maksiat, maka peringatkan dan cegah mereka.” Rasulullah SAW bersabda “pria adalah seorang pemimpin di dalam kelaurganya sebab dia akan ditanya tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin rumah suami dan anak-anaknya, dia akan ditanya tentang kepemimpinannya HR Bukhari Muslim. Orang tua mempunyai 3 peran terhadap anak menurut Zakiyah Drajat dkk yaitu merawat tumbuh kembnag anak, membantu anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta merawat psikologis dan emosional anak. Kewajiban orang tua terhadap anak adalah Menyediakan hidup yang baikMenerima nama yang baikDisembelihkan aqiqahnyaASI selama 2 tahunMnyediakan makan, minum, pakaian, pendidikan, agama, akhlah, pengajaran Al-QuranKesehatan yang baikMemberikan kasih sayang, keamanan dan perlindunganDampak Penelantaran AnakDalam QS An-Nisa’9, sudah sangat jelas dalam hukum Islam bahwa Islam sangat melarang penelantaran anak. Sebab seorang anak akan mewarisi apa saja yang dimiliki orang tua, menjaga keturunan keluarga serta harapan agama dan bangsa di masa tua berkewajiban menjaga, mendidik dan memelihara agar anak dapat memajukan dan memperjuangkan agama dan bangsa dengan baik bukan malah menelantarkannya. Anak yang ditelantarkan akan menjadi pengemis, gelandangan, pengangguaran yang berdampak pada kenakalan remaja. Perkembangan fisik dan emosional pun menjadi tidak normal, anak mengalami gangguan bahasa dan sosial, tidak tegas, sering bolos sekolah serta penampilannya tidak terawat. “Cukup berdosa orang yang yang mengabaikan hak seseorang yang menjadi tanggungannya” HR Abu Daud Nasa’i dan Hakim.Jika memang seorang ayah yang telah bekerja tidak mencukupi kebutuhan si anak, maka ayah boleh meminta bantuan ahli waris anak karena ahli waris berkewajiban menafkahi si anak Al-Baqarah 233. Waris adalah siapapun yang akan mendapat warisan jika si anak telah meninggal. Jika si anak adalah orang dewasa, maka yang menjadi ahli waris adalah 15 pria dan 10 wanita. Jika si anak belum dewasa, maka ahli waris selain ayahnya adalah 3 pria yaitu kakek dari bapak, paman si anak atau paman sebapak dan 3 wanita yaitu ibu si anak, nenek dari pihak ibu anak atau nenek dari pihak ayah bagi Orang Tua yang Menelantarkan AnakOrang tua mendapat hukuman dari AllahJika Allah sudah memberi hukuman, maka tidak ada hal yang dapat manusia lakukan. Rasulullah SAW mengingatkan, “Sesungguhnya pada hari kiamat ada manusia yang tidak akan diajak bicara, tidak disucikan dan tidak dilihat”. Kemudian Nabi ditanya “Siapakah orang-orang itu?” Nabi Muhammad SAW lalu menjawab “Anak yang berlepas diri dari orang tuanya dan orang tua ynag berlepas diri dari anaknya,” HR AhmadOrang tua kehilangan doa dan amal si anakKetika orang tua meninggal, maka hanya doa dan amal yang mereka harapkan. Doa ampunan yang bermanfaat dan amal anak yang membuat orang tua juga ikut mendapatkan pahala. Ini semua adalah hasil kerja keras orang tua dalam memberikan pendidikan bagi anaknya. Jika sang anak ditelantarkan, maka dia tidak mendapatkan keduanya. Anak yang ditelantarkan akan enggan mendoakan orang tuanya dan amalnya pula menjadi milik dia seorang sehingga orang tua mengalami kesengsaraan sewaktu permusuhan antara anak dengan orang tuaJika saja orang tua yang tidak berniat menelantarkan anak dapatmenimbulkan kebencian pada diri sang anak, apalagi orang tua yang benar-benar menelantarkan. Bukan hanya kebencian yang didapat, akan juga bertambah menjadi permusuhan. Dalam QS At-Taghabun14, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Jika seorang mukmin saja dapat mempunyai anak yang dapat menjadi musuh, apalagi orang tua yang menelantarkan anaknya tua kehilangan kasih sayangKita menginginkan orang tua yang menelantarkan si anak adalah mereka yang tengah berada dalam kesulitan ekonomi keluarga bukan karena telah kehilangan rasa kasih sayang kepada anak-anaknya. Sudah jelas bahwa Islam melarang manusia untuk menelantarkan anak-anaknya. Jangankan anak, Allah saja melaknat seseorang yang mengurung dan tidak memberi makan Rasulullah bersabda “Dakhalatimra’ atun naara fii Hirratin” yang artinya seorang wanita akan masuk neraka karena seekor kucing.” Hadits ini berkaitan erat dengan kisah seorang wanita yang mengurung kucing tanpa memberi makan dan adalah wanita tersebut akan masuk neraka karena telah menganiaya kucing dan tidak memberi makan. Islam juga sangat mengecam orang-orang yang sudah kehilangan kasih sayangnya kepada umat manusia dan tingkatkan cara meningkatkan iman dan taqwa yang benar. Rasulullah bersabda “Laa yarhamullaaHu man laa yarhamun naasa” yang artinya “Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak sayang kepada manusia.”Penelantaran Anak di masa Rasulullah SAWPenelantaran anak juga sering disebabkan oleh tidak adanya keluarga yang sanggup menanggungnya. Mungkin saja hal ini disebabkan karena keluarga besar sedang menghadapi masalah keuangan atau karena faktor bencana alam. Maka dalam hal ini yang memberikan nafkah adalah tanggung jawab Negara Islam. Nabi Muhammad SAW bersabda, “ Siapa saja yang meninggalkan harta untuk siapa saja ynag meninggalkan “kalla” orang lemah yang tidak punya anak anak dna orang tua, maka mereka menjadi kewajiban kamu.” Selain sebagai Nabi, Rasulullah SAW juga menjadi pemimpin Darulah Islamiyah. Nafkah sang anak oleh Negaara Islam diambil dari kas negara Baitul Maal pada pos zakat. Jika dana ini habis, maka diambil dari dana pos lain. Apabila dalam kas Negara, sudah habis hartnya, maka kewajiban menyelamatkan anak yang terlantar diberikan kepada orang-orang kaya. QS Adz-Dzariyat19,“Dan di dalam harta mereka, ada hak bagi orang miskin yang meminta-minta”. Bahkan Rasulullah juga bersabda, “Tidakkah beriman kepada-Ku, siapa saja yang telah tidur kekenayagan, akan tetapi dia mengatahui bahwa tetangga sampingnya sedang kelaparan HR Al-Bazzar.Demikian hukum menelantarkan anak dalam Islam. Sesungguhnya anak sudah diciptakan menurut Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam. Oleh karena itu, anak tidak boleh ditelantarkan. Semoga bermanfaat. Orang tua dan anak-anaknya, Sumber PexelsAnak merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah SWT. Namun, berkah tersebut disertai dengan tanggung jawab yang sangat besar. Sebab, orang tua harus memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi yang baik, pintar, dan taat buku Anak adalah Anugerah oleh Saat Sulaiman, dijelaskan bahwa akan ada berbagai masalah apabila orang tua tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup. Konsekuensi yang akan dihadapi jika anak tidak dididik dengan baik tak hanya dirasakan oleh keluarga atau anak itu sendiri, melainkan masyarakat secara anak yang tidak didik dengan baik banyak yang akhirnya terjerumus dalam perilaku tercela seperti seks bebas, narkoba, aksi kejahatan, dan lainnya. Itu sebabnya mendidik anak dengan benar sangat satu sumber ilmu bagi orang tua dalam mendidik anaknya bisa didapatkan melalui Hadits Rasulullah SAW. Berikut ulasan lengkapnya untuk menjadi pedoman para orang tua dan anaknya, Sumber PexelsKumpulan Hadits tentang Mendidik AnakBerikut adalah kumpulan hadits tentang mendidik anak yang dikutip dari buku 1100 Hadits Terpilih oleh Muhammad Faiz AlmathBerikan Anak Kasih Sayang“Cintailah anak-anak dan kasih sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki.” HR At-ThabraniOrang Tua Harus Bersikap Adil Kepada Anak“Bertaqwalah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu.” HR. Al Bukhari dan MuslimKeutamaan Mendidik Anak Perempuan dengan Baik“Barangsiapa yang mempunyai dua anak perempuan dan diasuh dengan baik maka mereka akan menyebabkannya masuk surga.” HR. Al BukhariPemberian Kepada Anak Harus Sama Rata“Sama ratakan pemberianmu kepada anak-anakmu. Jika aku akan mengutamakan yang satu terhadap yang lain tentu aku akan mengutamakan pemberian kepada yang perempuan.” HR. At-ThabraniOrang Tua Harus Menyuruh Anak Sholat“Suruhlah anak-anakmu shalat bila berumur tujuh tahun dan gunakan pukulan jika mereka sudah berumur sepuluh tahun dan pisahlah tempat tidur mereka putera-puteri." HR. Abu DawudOrang yang Tidak Mendidik Anak Dengan Baik akan Masuk Neraka“Ada tiga jenis orang yang diharamkan Allah masuk surga, yaitu pemabuk berat, pendurhaka terhadap kedua orang tua, dan orang yang merelakan kejahatan berlaku dalam keluarga merelakan isteri atau anak perempuannya berbuat serong.” HR. Annasai dan Ahmad“Tidak ada pemberian seorang ayah untuk anaknya yang lebih utama daripada pendidikan tata krama yang baik.” HR. At-Tirmidzi Sebab-sebab Anak Masuk Neraka Salah satu perbuatan dosa besar yang sangat dimurkai oleh Allah Ta’ala adalah durhaka kepada kedua orang tua. Oleh karena itu Islam mengingatkan juga mengajarkan untuk senantiasa memuliakan dan berlaku baik kepada kedua orang tua. Memuliakan orangtua menjadi salah satu sebab seorang anak menjadi ahli surga, dan bersikap durhaka kepada kedua orang tua menyebabkan seseorang menjadi penghuni neraka. Berikut merupakan bentuk-bentuk durhaka kepada kedua orang tua yang disebutkan dalam Alquran dan hadis. Pertama, berkata keras dan kasar. Berkata keras dan kasar kepada orang tua merupakan salah satu bentuk durhaka yang dilarang dalam Islam. Hal ini sesuai dengan Al Quran surat Al-Isra ayat 23, وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” Kedua, membuat bersedih atau menangis. Membuat orang tua bersedih sampai menangis karena perbuatan atau ucapan anaknya juga salah satu bentuk dari kedurhakaan. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shalallahu alaihi wasallam, لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَاقٌ وَلاَ مُدْمِنُ خَمْرٍ وَلاَ مُكَذِّبٌ باْلقَدَرِ “Tidak masuk surga anak yang durhaka, peminum khamr minuman keras dan orang yang mendustakan qadar” HR. Ahmad 6/441 dan di Hasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Hadits Shahihnya 675. Tiga, tidak patuh. Dengan alasan kesibukan pekerjaan atau sudah punya keluarga sendiri, banyak anak yang kemudian mulai kurang perhatian kepada kedua orang tuanya. Hingga tidak sedikit kasus anak yang menelantarkan orangtua, padahal hal tersebut termasuk bentuk kedurhakaan yang nyata. Dari Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, إِنَّاللَّهَ تَعَالَى حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ اْللأَمَّهَاتِ، وَمَنْعًا وَهَاتِ وَوَأْدَ اْلبَنَاتِ، وَكَرِهَ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ، وَكَشْرَةَ اْلسُّؤَالِ، إِضَاعَةَ اْلمَالِ “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan minta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta menghamburkan kekayaan.” HR. Bukhari dalam Fathul Baari 10/405 No. 5975, Muslim No. 1715 & 912. Tidak menghormati orang tua juga masuk dalam kategori kedurhakaan seorang anak. Allah menganjurkan seorang anak agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Hal ini sebagaimana termuat dalam Al Quran, “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” QS. An-Nisa 36. Shabirin

hadits orang tua masuk neraka karena anaknya